STATUS PERIKANAN KEPITING BAKAU

Dengan informasi pasar kepiting bakau yang semakin meluas maka komoditas tersebut telah memberikan nilai ekonomis dan peningkatan pendapatan bagi petani dan telah membuka peluang bisnis kepiting bakau yang semakin berkembang. Pada awalnya bisnis ini hanya mengandalkan hasil tangkapan untuk ukuran pasar siap jual, kemudian meningkat ke upaya budidaya baik budidaya pembenihan maupun pembesaran. Seperti yang terjadi di beberapa negara Asia Tenggara seperti Indonesia dan Filipina. Oleh karena itu tidak saja kepiting besar yang ditangkap, tetapi ukuran kecilpun menjadi bernilai ekonomis. Akhirnya di beberapa tempat terjadi intensitas penangkapan yang cukup tinggi dan telah dirasakan semakin menurunnya produksi tangkap seperti kasus di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.
Harga kepiting bertelur penuh yang jauh lebih tinggi mendorong minat petani melakukan budidaya produksi kepiting bertelur. Di kalangan bisnis kepiting bakau usaha ini dinilai merupakan usaha yang paling menguntungkan, dengan waktu pemeliharaan yang relatif singkat (1-3 minggu) dengan faktor resiko kecil. Permasalahan utama adalah untuk mendapatkan kepiting bakau yang ditelurkan dalam jumlah banyak dan kontinyu, sehingga budidaya produksi kepiting bakau bertelur masih bersifat musiman.
Keuntungan yang diperoleh dari budidaya produksi kepiting bertelur ini terutama karena adanya margin harga yang cukup besar dan tingkat kematian yang relatif kecil selama pemeliharaan. Hal ini antara lain disebabkan karena frekuensi ganti kulit kepiting dewasa relatif kecil sehingga kematian yang terjadi karena kanibalisme saat molting tidak terjadi, waktu pemeliharaan singkat, sistim budidaya mono sex dan nafsu makan kepiting yang bertelur semakin berkurang yang dinilai dapat menekan sifat kanibalisme. Sifat budidaya ini hampir sama dengan budidaya penggemukan, hanya bedanya penggemukan bisa diartikan untuk semua sex dan ukuran, walaupun dalam prakteknya petani hanya menggemukkan kepiting ukuran besar yang didapatkan dalam keadaan keropos (kurus) saja.
Pembesaran kepiting dilakukan dengan pola budidaya tambak tradisional pada lokasi penghasil kepiting. Pola budidaya ini sangat sederhana dan hanya mengandalkan benih kepiting yang masuk ke dalam tambak bersama air pasang tanpa pemberian pakan. Budidaya ini kemudian meningkat dengan cara manipulasi stoking, dimana stoking benih alam yang biasanya berukuran antara 5-100 g ditebar setiap diperoleh benih tangkapan tanpa memperhitungkan padat tebar. Dalam beberapa bulan setelah penebaran pertama, dilakukan panen selektif dengan alat rakkang kemudian ditebari lagi seadanya. Demikian dilakukan terus menerus sehingga sulit diketahui produksi dan mortalitasnya secara pasti. Walaupun demikian, petani merasakan adanya peningkatan nilai tambah tanpa investasi dan resiko yang besar.
Penggemukan dan produksi kepiting bertelur pada umumnya masih dilakukan secara bersama-sama pada tempat-tempat yang memenuhi persyaratan seperti di tempat yang airnya tergenang dan tidak mengalami pergantian air. Metode seperti ini menyebabkan tingginya mortalitas akibat penurunan mutu air dan kanibalisme.
Silvofishery dimaksudkan untuk pemanfaatan kawasan mangrove bagi budidaya kepiting bakau ramah lingkungan yaitu dengan sekecil mungkin merubah ekosistim mangrove sehingga fungsi ekologis, biologis dan ekonomisnya masih bisa dipertahankan.
Dalam dua tahun terakhir, di Sulawesi Selatan telah berkembang budidaya kepiting ”soka” atau kepiting lembek atau kepiting molting atau dalam bahasa Inggeris disebut ”soft shell”. Kunci kesuksesan dari budidaya kepiting soka ini adalah bagaimana mendapatka kepiting yang berganti kulit dalah tempo singkat dan dalam jumlah yang banyak. >>>>>>>>>>>>IRMAWAN SYAFITRIANTO

Comments

Popular posts from this blog

PERAN KEPEMIMPINAN DALAM PENGENDALIAN GRATIFIKASI

PENDIDIKAN JEMBATAN PEMBANGUNAN

Pemanfaatan Imunostimulan untuk Pencegahan Koi Herpes Virus (KHV)