Taksonomi Kepiting Bakau

Kepiting bakau atau dalam bahasa Inggeris dikenal dengan “Mangrove crab” atau “Mud crab” diklasifikasikan oleh stephenson and Campbell (1960), Motoh (1977), Warner (1977), Moosa (1980) dan Keenan et. al. (1998) sebagai berikut :
Class : Crustacea
Ordo : Decaphoda
Familia : Fortunidae
Genus : Scylla ( De Haan, 1833)
Species: Seylla serrata (Forskal, 1775),
Scylla tranquiberica (Fabricius 1798),
Scylla paramamosain (Estampador, 1949) dan
Scylla olivacea (Herbst, 1796).
Krustasea merupakan hewan berkulit keras sehingga untuk pertumbuhannya melalui proses ganti kulit atau dikenal dengan ‘moulting’. Ordo decaphoda ditandai dengan terdapatnya lima pasang kaki yang pada kepiting bakau pasangan kaki pertama berperan sebagai alat penangkap makanan yang disebut capit dan pasangan kaki yang terakhir (kelima) bermodifikasi menjadi bentuk kipas (pipih) yang berfungsi sebagai kaki renang.
Genus Scylla ditandai dengan bentuk karapas yang oval bagian depan pada sisi panjangnya terdapat 9 buah duri di sisi kiri dan kanan serta 4 yang lainnya diantara kedua matanya. Species-species di bawah genus Scylla dapat dibedakan dari penampilan morfologi maupun genetiknya sebagaimana diungkapkan oleh dua ahli kepiting berikut ini. Menurut Estamphador (1949) terdapat tiga species yang bernilai ekonomis dalam Genus Scylla yaitu: (1) S. serrata, (2) S. Oceanica, (3) dan S. transquebarica, dan satu varietas yakni S. serrata paramamosain. Scylla serrata dapat dibedakan dengan dua species lainnya (S. oceanica dan S. transquebarica) berdasarkan ciri morfologi terutama pada bentuk duri baik pada karapas maupun pada capitnya serta warnanya. S. serrata memiliki duri yang relatif pendek dibandingkan dengan dua species yang lain. Sedangkan berdasarkan warnanya, kepiting bakau dapat dibedakan sebagai berikut: S. serrata berwarna keabu-abuan sampai hijau kemerah-merahan dan hampir sama dengan varietas S. serrata paramamossain sehingga keduanya sulit dibedakan; S. oceanica berwarna kehijauan dan terdapat garis-garis berwarna coklat pada hampir seluruh-bagian tubuhnya kecuali bagian perut; S. transquebarica berwarna kehijauan sampai kehitam-hitaman dengan sedikit garis-garis berwarna coklat pada kaki jalan terakhir dan kaki renangnya. Secara umum S. oceanica dan S.
transquebarica memiliki ukuran yang lebih besar dibandingkan dengan S. serrata dan varietasnya paramamossain pada umur yang sama. Pengelompokan oleh estampador tersebut telah dikonfirmasi secara genetika oelh Fuseya dan Watanbe (1996), Sugama dan Haryanto (1997), Sulaeman (2000) dan Sulaeman (2001) dengan menggunakan metode elektoforesis.
Menurut Keenan et. al. (1998), terdapat paling sedikit empat species kepiting bakau di bawah genus Scylla yaitu S. serrata, S. transquebarica, S.olivacea dan S. paramamosain. Hal ini didasarkan pada hasil inpestigasi metode genetika yakni mitocondria DNA dan allozim elektroforesis. Pemberian nama tersebut berbeda dengan nama-nama species sebagaimana dijelaskan oleh Estampador (1949) sebelumnya dan hingga kini paling layak untuk diacu didalam. Untuk jelasnya berikut perbandingan pemberian nama Estampador (1949) dan Keenan et. al. (1998)
Estampador (1949) Keenan et al (1998)
S. serrata S. olivacea
S. oceanica S. serrata
S. transquebarica S. transquebarica
S. serrata var. paramamossai S. paramamossain
Beberapa karakter dapat digunakan untuk membedakan keempat species kepiting bakau (Keenan et al, 1998) antara lain sebagai berikut :
1. Morfologi
Berdasarkan warna dan tanda “H” pada bagian punggung karapas dan bentuk tubuh lainnya maka secara praktis species di bawah genus Scylla dapat dibedakan
2. Morfometric
Dari sekian banyak hasil pengukuran morfometrik terhadap bagian-bagian kepiting bakau seperti: tinggi kesembilan duri pada sisi karapas(LSH)/lebar karapas bagian dalam(ICW), Lebar karkapas total (CW)/lebar karapas pada duri 8 (8CW), panjang karapas/lebar karapas bagian dalam (ICW), lebar karapas bagian belakang (PWC)/lebar karapas bagian dalam (ICW), lebar karapas bagian depan (FW)/lebar karapas bagian dalam (ICW), lebar karapas bagian belakang (PWC)/lebar karapas bagian depan (FW), tinggi duri depan tengah (FMSH)/ lebar karapas bagian depan (FW), tinggi duri depan tengah (FMSH)/jarak duri depan tengah (DFMS), jarak duri depan tengah (DFMS)/ lebar karapas bagian depan (FW), dan seterusnya seperti pada Gambar 4, maka ada tiga rasio yang dapat digunakan untuk membedakan keempat species (Tabel 2).
3. Genetika
Secara genetika species kepiting bakau dapat dibedakan dengan metode allozime elektroforesis dan mtDNA. Dengan metode allozime elektroforesis kita hanya mampu membedakan tiga kelompok species. Species S. olivacea dan S. paramamosain tidak dapat dipisahkan karena tidak adanya enzim spesifik. Namun hal tersebut dapat dibedakan dengan metode mtDNA.
Teknologi pembenihan
Kegiatan budidaya yang banyak dilakukan pada saat ini masih terbatas pada kegiatan penggemukan karena keterbatasan benih dari alam. Dengan keberhasilan penguasaan teknologi perbenihannya diharapkan kebutuhan pasar dapat dipenuhi melalui budidaya. Di bawah ini disajikan teknologi yang telah dikuasai untuk dikembangkan (Rusdi et al, 1999) terutama mengenai pemiijahan dan Pembesaran larva:
Kepiting dewasa dengan berat tubuh 250-400 g, ditangkap dari alam lalu dipelihara di dalam bak beton (8 m3 ) yang diberi dasar pasir. Kepiting diberi pakan campuran ikan rucah dan kerang anadara sebanyak 5 % bobot tubuh. Selama 1 bulan pemeliharaan biasanya kepiting siap mijah. Kepiting siap mijah dengan indikator warna telur sudah berubah menjadi coklat kehitaman lalu dipindah ke bak pemijahan (0,5-1 m3 ). Larva yang baru menetas dipindahkan lagi ke bak pembesaran larva.
Kepadatan awal pemeliharaan larva adalah 50 ekor/liter. Larva yang baru menetas disebut stadia Zoea-1 (Z-1) diberi pakan berupa rotifer dengan kepadatan 5 ind/ml. Pemberian pakan rotifer yang dibarengi dengan pemberian Nannochloropsis (500.000 sel/ml) dilakukan hingga stadia Z-4, kurang lebih memerlukan waktu 9 hari pada suhu air 31+ 0,5 oC. Pada saat mencapai stadia Z-4 mulai diberi pakan nauplii artemia yang diperkaya dengan HUFA. Kepadatan artemia antara 1,0-2,5 ind/ml dan pemberiannya dilanjutkan hingga stadia Megalopa (M). Selama stadia M (kurang lebih selama 6 hari) selain diberi pakan artemia juga diberi pakan buatan “microdiet” yang biasa digunakan untuk pakan untuk udang. Pada stadia akhir (crablet atau kepiting muda, C-1) hanya diberi pakan pellet. Dari stadia Z-1 hingga C-1 membutuhkan waktu pemeliharan sekitar 17-18 hari.
Kelangsungan hidup yang dicapai dengan metoda ini hingga stadia M akhir adalah 14 % (Rusdi et al. 1999). Hasil yang dicapai sangat mengembirakan dan mungkin hasil tertinggi yang pernah dicapai selama ini. Untuk pemeliharaan selanjutnya adalah menciptakan teknologi pembesaran secara ekstensif, karena stadia M dan C merupakan stadia yang sangat rawan dengan kanibalisme, stadia ini tidak bisa dipelihara intensif dengan kepadatan tinggi.
Pembesaran Kepiting di tambak
Pemilihan lokasi budidaya harus tepat secara teknis operasional dengan mempertimbangkan aspek biologi kepiting bakau. Pertimbangan secara teknis termasuk dalam efisiensi biaya operasional dalam proses budidaya, sehingga dalam pemilihan lokasi harus mempertimbangkan segi kemudahan dalam mendapatkan benih, pakan, pemasaran dan keamanan. Lahan tambak yang terbengkelai yang terletak di daerah sumber penghasil kepiting bakau kiranya sangat cocok untuk budidaya pembesaran kepiting bakau, karena biasanya masih banyak tanaman bakau tumbuh di pelataran tambak sehingga dapat digunakan sebagai shelter dan pelindung dari sengatan matahari. Disamping itu juga lahan tersebut dekat dengan aliran sungai sehingga mudah melakukan penggantian air. Parameter kualitas air dan tanah yang disarankan yaitu salinitas 10 - 30 ppt, suhu 25 – 30 oC, kandungan oksigen > 3 ppm, pH air 7-8 dan substrat dasar tambak adalah lumpur berpasir.
Kesehatan benih merupakan satu diantara beberapa faktor penting yang menunjang keberhasilan budidaya perikanan. Oleh sebab itu pemilihan dan pengelolaan benih harus benar dan tepat. Satu diantara cara praktis untuk mengetahui benih kepiting sehat adalah dengan cara menarik kaki renangnya kearah belakang. Apabila refleksi kembalinya kaki renang ke depan masih berlangsung cepat maka dapat dikatakan bahwa benih tersebut masih sehat, namun apabila sudah lambat itu berarti kepiting sudah kurang sehat. Kesehatan benih juga bisa dilihat dari kelengkapan kaki-kakinya. Hilangnya capit akan berpengaruh pada kemampuan untuk memegang makanan yang dimakan serta kemampuan sensorisnya. Walaupun pada akhirnya setelah ganti kulit maka kaki yang baru akan tumbuh tetapi hal ini memerlukan waktu, belum lagi adanya sifat kanibalisme kepiting, sehingga kepiting yang tidak bisa jalan karena sedang ganti kulit atau lambat jalannya karena banyak kakinya yang hilang sering menjadi mangsa kepiting lainnya. Untuk itu maka harus dipilih benih yang mempunyai kaki masih lengkap. Benih kepiting yang kurang sehat warna karapas akan kemerah-merahan dan pudar serta pergerakannya lamban.
Walaupun kepiting bakau merupakan hewan yang tahan terhadap perubahan lingkungan, namun cara pengangkutan yang salah bisa menyebabkan kematian dalam jumlah banyak. Pengangkutan benih sebaiknya dilakukan pada waktu malam hari, pagi hari ataupun sore hari sewaktu suhu udara rendah dan kurang sinar matahari. Terekposenya benih ke dalam sinar matahari bisa menimbulkan dehidrasi yang pada akhirnya cairan dalam tubuh kepiting akan keluar semuanya sehingga kepiting akan mati. Wadah yang dipakai dalam pengangkutan kepiting sebaiknya tidak menyebabkan panas dan letakkan kepiting dalam posisi hidup. Wadah keranjang dengan garis tengah 50 cm dan tinggi 60 cm dapat memuat benih sebanyak 150-200 individu ukuran 40-50 mm untuk benih yang diikat. Lakukan penyiraman sebanyak 2-3 kali dengan air berkadar garam 10-25 ppt, selama pengangkutan 5-6 jam.
Penebaran kepiting dilakukan pada pagi atau sore hari dengan cara menggunting tali pengikat benih kepiting dan dibiarkan kepiting merayap sebelum masuk ke dalam perairan tambak. Diusahakan kepiting bisa tersebar di seluruh pelataran tambak yang telah ditentukan dan dipersiapkan terlebih dahulu, yang meliputi :
Lokasi tambak dekat sumber air dan mudah dikeringkan, luas 0,5-1 ha.
Pemagaran, gunakan bilah-bilah bambu/kayu yang licin seperti kayu ulin, dengan persyaratan pagar sebagai berikut :
Jarak antara bilah bambu 1 cm
Pagar yang tertanam dalam tanah 20-50 cm
Pagar terendam air sekitar 80 cm
Pagar diatas permukaan air 20-50 cm.
Agar kepiting yang lolos melewati pagar tidak merusak pematang maka pagar sebaiknya terletak 1 meter masuk pelataran tambak dan letak pagar sedikit condong masuk pelataran tambak.
Pemberian shelter dari potongan bambu diameter 15 cm, panjang 30 cm dan berlubang pada kedua ujungnya ataupun ban mobil.
Buatlah gunungan di pelataran tambak sebanyak 12 buah masing-masing berukuran 5 m3.
Padat penebaran yang disarankan 1-2 individu/m2. Pakan yang diberikan bisa berupa ikan rucah segar/kering, kekerangan yang masih hidup dan kombinasinya. Pada bulan pertama pakan diberikan sebanyak 10 % total biomassa, bulan kedua 8% total biomassa dan pada bulan ketiga 6 % total biomassa untuk pakan ikan segar. Pakan diberikan setiap hari terutama pada waktu air mulai pasang, karena pada saat tersebut kepiting mulai aktif bergerak mencari makan.
Sampai akhir bulan ke tiga pemeliharaan biasanya sudah terdapat kepiting yang mencapai ukuran konsumsi sehingga sudah bisa dilakukan panen selektif terutama pada kepiting betina matang gonad. Pemanenan kepiting bisa dilakukan pada waktu air pasang dengan cara memasang alat tangkap tradisional rakang yang ditancapkan secara menyebar di pelataran tambak, tetapi juga bisa hanya diletakkan di dekat pintu air karena pada waktu pasang biasanya kepiting akan bergerak menentang air masuk sehingga banyak berada di depan pintu air. Kepiting yang telah dipanen selanjutnya diikat dan bisa langsung dipasarkan ke konsumen terutama untuk kepiting matang gonad ataupun kepiting jantan gemuk.
Pada padat tebar 1 ekor/m2, setelah tiga bulan sintasan kepiting mencapai 75- 80% sedangkan pada padat tebar 2 ekor/m2 sintasan mencapai 60 - 65 % dengan ukuran kepiting bervariasi dari 90 - 200 g. Dengan demikian panen hanya dapat dilakukan secara seleksi terutama pada kepiting yang telah mencapai ukuran konsumsi.
Penggemukan dan produksi kepiting matang gonad
Penggemukan atau produksi kepiting matang gonad dapat dilakukan di dalam petakan bilah bambu, kurung bambu terapung yang ditempatkan dalam petakan tambak atau pinggiran sungai dan bak kayu/bak semen pada lokasi yang tidak ada areal pertambakannya.
1. Petakan bilah bambu
Bilah bambu atau kere bambu ditancapkan sedalam 30-40 cm, dan 100 cm di atas pelataran tambak.
Bentuk persegi atau lingkaran dengan luas sekitar 100 m2 di atas pelataran tambak.
Petakan sebaiknya di dekat pintu air.
Ranting kayu dan daun kelapa dapat digunakan untuk berlindung (shelter) kepiting dari pemangsaan.
2. Kurungan apung
Kurungan apung terbuat dari bilah bambu, sehingga air bebas keluar masuk ke dalam kurung apung.
Ukuran kurung apung (100X50X20 cm) diberi sekat masing-masing berukuran 20X10 cm, sehingga satu unit kurungan sebanyak 15 kotak.
Kurungan dilengkapi pelampung bambu sehingga tenggelam sedalam 10-15 cm.
Untuk melindungi sengatan matahari terhadap kepiting yang bisa berakibat kematian kepiting, maka kurungan sebaiknya ditempatkan di perairan yang teduh oleh adanya rumpun nipah atau bakau.
Kepiting kosong baik dari alam maupun sisa sortiran saat penjualan ditebar dengan kepadatan 5-20 ekor/m2 untuk petakan bilah bambu dan 1 ekor/kotak kurungan bambu apung. Pemberian pakan berupa ikan rucah sebanyak 3-5% bobot badan/hari diberikan dengan frekuensi 2-3 kali/hari. Setiap hari pada saat air tambak diturunkan dilakukan pembersihan petakan dan pengontrolan bocoran. Pembersihan kurungan terapung dilakukan dengan penyikatan setiap minggu. Penggantian air dilakukan pada saat pasang tinggi. Panen dapat dilakukan setelah kepiting gemuk atau matang gonad biasanya dicapai setelah 10-20 hari pemeliharaan. Tingkat kegemukan kepiting dapat dilakukan dengan menekan bagian perut menjadi keras. Tingkat kematangan gonad dapat diketahui dengan menekan batas perut bagian belakang dan karapas. Kepiting matang gonad akan terlihat gonad yang berwarna oranye atau kuning.
Panen untuk kepiting yang digemukkan di dalam petakan bilah bambu dapat dilakukan menggunakan "rakkang". Untuk memudahkan pemanenan maka perlu dipuasakan sehari sebelum dilakukan pemanenan, agar supaya kepiting mudah tertarik pada umpan yang terpasang dalam rakkang. Panen seleksi dapat dilakukan langsung pada wadah kurungan apung. Hasil panen pada petakan bilah bambu dapat mencapai 80% gemuk atau berisi dengan tingkat kelulusan hidup mencapai 95% (petak bilah bambu) dan 100% (kurungan terapung).
Produksi kepiting soka
Salah satu sifat yang dimiliki krustase dalam pertumbuhannya adalah ganti kulit atau dalam bahasa ilmiah dikenal dengan molting. Pada kondisi ganti kulit, kulit krustase yang tadinya keras digantikan oleh kulit yang lembek sehingga dikenal dengan ”soft shelling crab” yang di Indonesia kemudian disingkat menjadi ’soka’. Karena kulitnya yang lembek, maka kepiting lembek tidak dapat mencapit dan mudah penanganannya. Kondisi lembek tersebut hanya bertahan dalam waktu yang singkat kemudian berangsur-angsur mengeras kembali sebagaimana layaknya kepiting normal sehingga perlu pengontrolan yang ketat. Produk ini sebenarnya telah lama dikenal terutama untuk kepiting biru (blue crab) Calinectes sapidus yang di tangkap dari alam. Namun karena penangkapan soka dari alam ketersediaannya tidak menentu, maka kemudian dipikirkan untuk dibudidayakan. Berbagai cara telah dicoba untuk mempercepat proses ganti kulit telah dilakukan seperti dengan rangsangan melaui manipulasi makanan, manipulasi lingkungan dan teknik mutilasi. Hingga saat ini teknik mutilasi yakni dengan mematahkan capit dan kaki jalan kepiting masih merupakan cara yang paling praktis yang dapat dilakukan untuk mempercepat terjadinya pergantian kulit dan dapat diterapkan secara massal. Dengan mematahkan anggota badan kepiting, maka hormon pertumbuhannya akan memacu pembentukan kembali dari anggota badan yang hilang. Dengan cara ini, kepiting muda dapat berganti kulit dalam 2-3 minggu tergantung pada kejelian di dalam memilih kepiting yang sudah mendekati fase ganti kulit. Karena penggemar soka cukup luas maka produk ini menjadi andalan oleh beberapa negara penghasil kepiting. Harganyapun cukup menggiurkan yakni sekitar 3-5 USD tergantung pada ukurannya. Semakin besar ukurannya semakin tinggi pula harganya. Namun karena pergantian kulit kepiting pada ukuran yang lebih kecil biasanya lebih cepat, maka pengembangan soka biasanya diarakan untuk kepiting muda dengan bobot 60-150 g/kep.
Berdasarkan sifat ganti kulit kepiting di atas, maka sejak tahun 90 an, produksi kepiting soka telah mulai dikembangkan di Indonesia. Walaupun secara ekonomis budidaya soka kelihatan menguntungkan, namun sebagian besar pengusaha soka tidak bisa bertahan lama. Berbagai kendala dihadapi terutama masalah pasar dan ketersediaan benih. Kebutuhan benih yang bersaing dengan kebutuhan konsumsi menyebabkan harga benih di beberapa sentra pengembangan menjadi mahal. Namun semakin membaiknya teknik perbenihan, maka di masa yang kan datang diharapkan hal ini tidak lagi menjadi masalah. Sedangkan masalah pemasaran, diharapkan dapat diformulasikan solusinya melalui keterlibatan pembudidaya dan pemerintah.
Produksi soka dilakukan melalui beberapa tahapan seperti: persiapan tambak, pemasangan keranjang sebagai wadah yang diapungkan di dalam tambak, penebaran benih yang kaki-kakinya telah dipatahkan, pemberian pakan, dan pengontrolan/panen. Persiapan tambak dapat dilakukan sebagaimana persiapan tambak untuk budidaya bandeng untuk menghasilkan lingkingan tambak yang baik. Keranjang yang dapat berupa keranjang buah klengkeng yang disekat dengan bila bambu menjadi 6 kotak untuk mengkomodasi masing-masing satu kepiting per kotak. Setelah penebaran, dilakukan pemberian pakan dua kali sehari sebanyak 5-10% dari bobot kepiting. Pengontrolan kepiting ganti kulit dilakukan lebih intensif setelah pemeliharaan memasuki minggu kedua untuk mengantisipasi adanya kepiting yang ganti kulit. Apabila kepiting yang ganti kulit dibiarkan sampai dengan 4 jam, maka kepiting lembek. Kepiting yang dipanen biasanya dapat dipasarkan dalam keadaan hidup maupun beku. Berdasarkan hasil pengkajian BAP Takalar terhadap pengusaha soka di Sulawesi selatan menunjukkan bahwa usaha ini menguntungkan dengan R/C rasio 1,94 untuk skala <1000 ekor dan 2,24 untuk skala >1000 ekor (Cahyono et al, 2005)