DESKRIPSI REPRODUKSI RAJUNGAN
Kepiting rajungan dapat hidup pada berbagai habitat seperti pantai bersubstrat pasir, pasir berlumpur, pasir putih berlumpur bersama-sama rumput laut di selat-selat terbuka dan pulau-pulau berkarang (Moosa, 1981). Menurut Sakai dkk. (1983), sebagian besar kepiting rajungan hidup di laut dan menetap pada zona intertidal pada dasar perairan dangkal.
Delsman dan De Man (1925) dalam Fatuchri (1972) menyatakan bahwa penyebaran kepiting rajungan adalah Laut Merah, Laut Tengah, Samudra Hindia (Natal, Zanzibar, Madagaskar, dan India), Teluk Persia, Kepulauan Mergui, Singapura, Kepulauan Indonesia, Philipina, Laut Cina, Australia, New Zealand, New Caledonia, Tahiti, dan Jepang.
Romimohtarto (1977) menyatakan bahwa musim pemijahan rajungan lebih mudah diamati dari pada ikan, hal ini dapat ditandai dengan terdapatnya telur-telur yang sudah dibuahi yang masih terbawa induknya yang melekat pada lipatan abdomen bersama pleopodanya.
Musim pemijahan rajungan terjadi sepanjang tahun dengan puncaknya terjadi pada musim barat di bulan Desember, musim peralihan pertama di bulan Maret, musim Timur di bulan Juli, dan musim peralihan kedua di bulan September (Toro, 1981).
Untuk mengetahui kemampuan individu dalam menghasilkan keturunan (larva/anak) dapat dilihat dari jumlah telur yang dihasilkan oleh individu betina dalam suatu pemijahan. Menurut Tuwo dan Tresnati (1995), perhitungan fekunditas umumnya dilakukan dengan mengestimasi jumlah telur yang ada di dalam ovarium pada organisme matang gonad. Sakai dkk. (1983) mengemukakan bahwa jumlah telur yang dihasilkan oleh kepiting rajungan bervariasi tergantung besarnya individu. Untuk kepiting yang panjang karapasnya 140 mm dapat menghasilkan 800.000 butir, sedangkan yang panjang karapasnya 160 mm dapat menghasilkan 2.000.000 dan individu dengan panjang karapas 220 mm menghasilkan 4.000.000 butir (Sakai dkk., 1983).
Menurut Nontji (1986), seekor rajungan dapat menetaskan telurnya menjadi larva mencapai lebih sejuta ekor. Selanjutnya Fatuchri (1972) mengemukakan bahwa massa telur kepiting rajungan yang berwarna kuning atau jingga berisi antara 1.750.000 hingga 2.000.000 butir telur.
Delsman dan De Man (1925) dalam Fatuchri (1972) menyatakan bahwa penyebaran kepiting rajungan adalah Laut Merah, Laut Tengah, Samudra Hindia (Natal, Zanzibar, Madagaskar, dan India), Teluk Persia, Kepulauan Mergui, Singapura, Kepulauan Indonesia, Philipina, Laut Cina, Australia, New Zealand, New Caledonia, Tahiti, dan Jepang.
Romimohtarto (1977) menyatakan bahwa musim pemijahan rajungan lebih mudah diamati dari pada ikan, hal ini dapat ditandai dengan terdapatnya telur-telur yang sudah dibuahi yang masih terbawa induknya yang melekat pada lipatan abdomen bersama pleopodanya.
Musim pemijahan rajungan terjadi sepanjang tahun dengan puncaknya terjadi pada musim barat di bulan Desember, musim peralihan pertama di bulan Maret, musim Timur di bulan Juli, dan musim peralihan kedua di bulan September (Toro, 1981).
Untuk mengetahui kemampuan individu dalam menghasilkan keturunan (larva/anak) dapat dilihat dari jumlah telur yang dihasilkan oleh individu betina dalam suatu pemijahan. Menurut Tuwo dan Tresnati (1995), perhitungan fekunditas umumnya dilakukan dengan mengestimasi jumlah telur yang ada di dalam ovarium pada organisme matang gonad. Sakai dkk. (1983) mengemukakan bahwa jumlah telur yang dihasilkan oleh kepiting rajungan bervariasi tergantung besarnya individu. Untuk kepiting yang panjang karapasnya 140 mm dapat menghasilkan 800.000 butir, sedangkan yang panjang karapasnya 160 mm dapat menghasilkan 2.000.000 dan individu dengan panjang karapas 220 mm menghasilkan 4.000.000 butir (Sakai dkk., 1983).
Menurut Nontji (1986), seekor rajungan dapat menetaskan telurnya menjadi larva mencapai lebih sejuta ekor. Selanjutnya Fatuchri (1972) mengemukakan bahwa massa telur kepiting rajungan yang berwarna kuning atau jingga berisi antara 1.750.000 hingga 2.000.000 butir telur.