TENTANG ASPERGILLUS

LINGKUNGAN
Aspergillus membutuhkan lingkungan tumbuh yang memenuhi persyaratan, antara lain memiliki kelembaban relatif (Rh) minimum sebesar 80%. Aspergillus flavus maupun Aspergillus parasiticus membutuhkan suhu sebesar 25 – 40oC guna pembentukan aflatoksin. Derajat keasaman (pH) medium yang dibutuhkan untuk pembentukan aflatoksin adalah pH 5,5-7,0. Selain persyaratan lingkungan, maka pembentukan aflatoksin sangat ditentukan pula oleh faktor potensial genetik fungi dan lama kontak antara fungi dengan substrat. Potensial genetik fungi ditentukan oleh strain fungi, misalnya terdapat fungi yang khusus menghasilkan aflatoksin B1. Pertumbuhan Aspergillus flavus dan Aspergillus parasiticus ditentukan oleh jenis dan kadar karbohidrat. Jenis karbohidrat yang paling baik untuk media fungi antara lain : glukosa, galaktosa dan sukrosa. Kemampuan tumbuh fungi pada media maltosa dan laktosa akan lebih rendah daripada glukosa, galaktosa dan sukrosa. Lebih-lebih pada media sorbitol dan mannitol, maka kemampuan tumbuh fungi akan lebih rendah lagi.
Keberadaan garam NaCl antara 1 – 3% sangat mendukung pembentukan aflatoksin. Pada NaCl 8% dengan suhu 24°C pembentukan aflatoksin akan dihambat, sedangkan pada suhu 28oC dan 35oC tetap terjadi pembentukan aflatoksin. Pada NaCl berkadar 14% tidak terjadi pembentukan aflatoksin
Mikotoksin berarti toksin yang dihasilkan oleh jamur. Mikotoksikosis adalah penyakit yang disebabkan oleh toksin yang dihasilkan oleh jamur yang termakan bersama-sama bahan pakan yang tercemar jamur.
Perhatian dunia secara intensif terhadap mikotoksin cukup besar sejak peristiwa yang mematikan lebih dari 100.000 ekor kalkun di Inggris sekitar tahun 1960. Wabah tersebut terkenal dengan sebutan “penyakit kalkun X” ( “Turkeys-X diseases”). Penyakit ini terjadi pada kalkun yang diberi pakanberupa kacang tanah asal Brasilia yang dicemari oleh fungi, yang menurut hasil identifikasi fungi tersebut adalah Aspergillus flavus. Zat toksik yang dihasilkan oleh Aspergillus flavus disebut aflatoksin. Istilah aflatoksin diambil dari singkatan kata Aspergillus flavus toksin.
Selain aflatoksin terdapat beberapa mikotoksin yang juga bersifat toksik, antara lain okhratoksin, trichotesen, sitrinin dan zearalenon. Tidak kurang dari 100.000 spesies fungi penghasil mikotoksin, tetapi baru sekitar 150 jenis mikotoksin yang telah diketahui.
Bahan pangan manusia maupun bahan pakan ternak merupakan media yang sangat cocok untuk pertumbuhan fungi apabila keadaan lingkungan sangat memungkinkan. Metabolit yang dikeluarkan oleh fungi selama pertumbuhan yang berupa mikotoksin sangat dimungkinkan terkandung dalam bahan pangan maupun bahan pakan yang tercemar.
Berkaitan dengan pengaruh toksik dari mikotoksin khususnya aflatoksin yang terkenal berbahaya, maka sangat perlu untuk mengetahui macam dan sifat-sifat aflatoksin dalam usaha untuk mencegah pertumbuhan fungi penghasil, yaitu Aspergillus flavus dan Aspergillus parasiticus dalam bahan pakan ternak.
Aflatoksin merupakan salah satu mikotoksin yang cukup berbahaya, karena bisa mengakibatkan antara lain hepatotoksik, mutagenik, karsinogeniok dan immuno- upressif. Aflatoksin bisa mencemari bahan pakan, seperti jagung, tepung biji kapas, kacang, tepung kacang, beras, kedelai, gandum dan biji sorgum. Penyerangan jamur pada umumnya saat pemanenan dan penyimpanan dalam kondisi lembab. Aflatoksin bisa dihasilkan oleh jamur Aspergillus flavus dan Aspergillus parasiticus. Kedua jamur tersebut dapat menghasilkan bermacam-macam aflatoksin, antara lain B1, B2, G1, M1 dan M2. Diantara aflatoksin tersebut yang paling berbahaya adalah B1

Popular posts from this blog

PERAN KEPEMIMPINAN DALAM PENGENDALIAN GRATIFIKASI

PENDIDIKAN JEMBATAN PEMBANGUNAN

Pemanfaatan Imunostimulan untuk Pencegahan Koi Herpes Virus (KHV)