PEMERIKSAAN PARASIT PADA IKAN
Sebelum melakukan proses nekropsi, terlebih dahulu melakukan pengamatan gejala klinis ikan selama masih berada di tempat pemeliharaannya (akuarium) berupa terdapat atau tidaknya kelainan pada ikan, seperti posisi berenang, nafsu makan, tingkah laku ikan (aktif atau pasif), dan lain-lain. Kemudian mencatat hasil pengamatan yang dilakukan.
Setelah itu, mengambil ikan yang akan diperiksa untuk dilanjutkan pada proses nekropsi dan pemeriksaan serta identifikasi parasit. Adapun tahap-tahap nekropsi dan pemeriksaan serta identifikasi parasit adalah sebagai berikut :
1. Melakukan pemeriksaan secara makroskopisdengan melihat bagian eksternal pada ikan, berupa bentuk sirip, tulang punggung, ada atau tidaknya ulcer, nodul, insang, dan lain-lain. Kemudian mencatat hasil pengamatan;
2. Mengambil lendir pada ikan dan meletakkannya pada objek glass yang telah ditetesi larutan NaCl fisiologis. Kemudian melakukan pengamatan dengan menggunakan mikroskop;
3. Mengukur berat dan panjang total ikan, kemudian mencatat hasil pengukuran tersebut;
4. Mengambil sampel darah dengan menggunakan pipa kapiler, kemudian membuat preparat apus.
5. Memotong bagian operculum ikan dan mengamati insangnya. Kemudian mencatat hasil pengamatan;
6. Melakukan pembedahan ikan untuk mengamati lesi patologis organ internal, kemudian mencatat hasil pengamatan;
7. Mengambil organ-organ yang akan diperiksa dan meletakkannya pada objek glass atau cawan petri yang telah diberi NaCl fisiologis. Kemudian melakukan pengamatan di bawah mikroskop;
8. Mengidentifikasi hasil yang diperoleh, kemudian mencatat hasil identifikasi.
Parasit yang ditemukan akan dilanjutkan dengan proses pewarnaan dengan menggunakan pewarna giemsa untuk parasit golongan protozoa dan pewarna haematoxylin untuk parasit golongan helmint. Proses pewarnaan pada parasit golongan protozoa adalah sebagai berikut :
a. Memisahkan dan membersihkan parasit yang telah ditemukan dengan menggunakan tissue, tusuk gigi atau jarum pentul;
b. Melakukan fiksasi dengan memberikan alkohol 70% pada objek glass dan membiarkannya kering angin;
c. Meneteskan larutan pewarna giemsa pada objek glass dan membiarkannya selama 10 menit. Setelah itu mencuci objek glass dengan aquades;
d. Melakukan proses dehidrasi dengan menggunakan alkohol bertingkat (alkohol 35%, 50 %, 70%, 90%, dan alkohol absolute) masing-masing selama 1 menit;
e. Meneteskan larutan xylent selama 30 detik;
f. Melakukan mounting dengan entellan;
g. Mengamati preparat di bawah mikroskop.
Setelah itu, mengambil ikan yang akan diperiksa untuk dilanjutkan pada proses nekropsi dan pemeriksaan serta identifikasi parasit. Adapun tahap-tahap nekropsi dan pemeriksaan serta identifikasi parasit adalah sebagai berikut :
1. Melakukan pemeriksaan secara makroskopisdengan melihat bagian eksternal pada ikan, berupa bentuk sirip, tulang punggung, ada atau tidaknya ulcer, nodul, insang, dan lain-lain. Kemudian mencatat hasil pengamatan;
2. Mengambil lendir pada ikan dan meletakkannya pada objek glass yang telah ditetesi larutan NaCl fisiologis. Kemudian melakukan pengamatan dengan menggunakan mikroskop;
3. Mengukur berat dan panjang total ikan, kemudian mencatat hasil pengukuran tersebut;
4. Mengambil sampel darah dengan menggunakan pipa kapiler, kemudian membuat preparat apus.
5. Memotong bagian operculum ikan dan mengamati insangnya. Kemudian mencatat hasil pengamatan;
6. Melakukan pembedahan ikan untuk mengamati lesi patologis organ internal, kemudian mencatat hasil pengamatan;
7. Mengambil organ-organ yang akan diperiksa dan meletakkannya pada objek glass atau cawan petri yang telah diberi NaCl fisiologis. Kemudian melakukan pengamatan di bawah mikroskop;
8. Mengidentifikasi hasil yang diperoleh, kemudian mencatat hasil identifikasi.
Parasit yang ditemukan akan dilanjutkan dengan proses pewarnaan dengan menggunakan pewarna giemsa untuk parasit golongan protozoa dan pewarna haematoxylin untuk parasit golongan helmint. Proses pewarnaan pada parasit golongan protozoa adalah sebagai berikut :
a. Memisahkan dan membersihkan parasit yang telah ditemukan dengan menggunakan tissue, tusuk gigi atau jarum pentul;
b. Melakukan fiksasi dengan memberikan alkohol 70% pada objek glass dan membiarkannya kering angin;
c. Meneteskan larutan pewarna giemsa pada objek glass dan membiarkannya selama 10 menit. Setelah itu mencuci objek glass dengan aquades;
d. Melakukan proses dehidrasi dengan menggunakan alkohol bertingkat (alkohol 35%, 50 %, 70%, 90%, dan alkohol absolute) masing-masing selama 1 menit;
e. Meneteskan larutan xylent selama 30 detik;
f. Melakukan mounting dengan entellan;
g. Mengamati preparat di bawah mikroskop.