“Melirik Kepiting Bakau di Sulawesi Tengah”



 Kepiting bakau (Scylla sp.) merupakan salah satu sumberdaya hayati perairan bernilai ekonomis penting memiliki habitat di wilayah estuaria dan mangrove. Kepiting bakau diminati masyarakat baik di dalam maupun luar negeri karena rasa dagingnya yang lezat dan bernilai gizi tinggi.
Potensi kepiting bakau (Scylla sp) di Sulawesi Tengah cukup melimpah. Sulawesi tengah merupakan salahsatu provinsi penghasil kepiting bakau di Indonesia. Kepiting bakau (Scylla sp) di Sulawesi Tengah berasal dari kabupaten Morowali, Banggai, Tojo una una, Parigi-Moutong, dan Kabupaten Donggala.
Selama 3 tahun terakhir (2011-2013)  terjadi peningkatan yang sangat signifikan terhadap frekuensi pengiriman kepiting bakau yang dilalulintaskan melalui bandar udara mutiara Palu yakni 723 kali pengiriman pada tahun 2011 menjadi 2 635 kali pengiriman pada tahun 2013 (SKIPM Palu, 2013).
Pada tahun 2013, Frekuensi lalulintas domestik keluar komoditas perikanan yang melalui bandar udara mutiara palu didominasi oleh komoditas kepiting bakau (Scylla sp) sebanyak 2635 kali, ikan sidat (Anguilla sp) sebanyak 764 kali, daging tuna (Thunnus sp) sebanyak 464 kali  dan ikan hias laut sebanyak 175 kali (SKPIM Palu, 2013).
Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), ekspor kepiting dan produk olahannya mencapai 19.786 ton pada Januari-Juni 2013. Volume ekspor ini meningkat 25,76 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yakni 15.733 ton. Selain didorong oleh peningkatan permintaan, peningkatan nilai ekspor kepiting juga didukung oleh kenaikan harga. Nilai ekspor kepiting tercatat naik 7,82 persen dari 183,7 juta dolar AS atau setara Rp2,09 triliun (kurs Rp 11.400) pada semester I/2012 menjadi 198,0 juta dolar AS (Rp 2,25 triliun) pada semester I/2013 (ww.kkp.go.id/2013).
Selama ini untuk memenuhi permintaan konsumen akan kepiting bakau (Scylla sp), seluruhnya masih dipenuhi dari hasil penangkapan di alam yang kesinambungan produksinya tidak dapat dipertahankan sepanjang tahun karena selain jumlahnya yang terbatas juga dipengaruhi oleh musim. Padahal, permintaan konsumen akan kepiting bakau setiap tahun terus meningkat.
            Usaha penangkapan kepiting bakau (Scylla sp) di Sulawesi Tengah semakin intensif, hal ini dapat mengakibatkan terjadinya penurunan populasi dan akan berdampak terhadap penurunan produksi.  Selain itu, intensifnya penangkapan juga akan menyebabkan terancamnya kelestarian kepiting bakau (Scylla sp).
Dengan semakin meningkatnya permintaan akan kepiting bakau (Scylla sp), maka seyogyanya produksi kepiting bakau  tidak hanya diprioritaskan dengan mengandalkan dari kegiatan penangkapan,  tetapi perlu upaya lain untuk meningkatkan produksi.  Salah satu diantaranya dengan melalui kegiatan budidaya sebagai alternatif untuk memenuhi permintaan tersebut.
Dalam mendukung peningkatan produksi kepiting bakau, kerjasama lintas sektoral antara pemerinta pusat, pemerintah daerah, serta perguruan tinggi harus senantiasa digalakkan. Perguruan tinggi bekerjasama dengan lembaga-lembaga penelitian sebaiknya mengintensifkan penelitian-penellitian tentang kepiting bakau, begitu juga dengan pemerintah pusat dan pemerintah daerah baiknya memberikan dukungan melalui kebijakan-kebijakan yang mengutamakan kepentingan nelayan/pembudidaya kepiting bakau.

Penulis : Irmawan Syafitrianto
Staff Stasiun Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan keamanan Hasil Perikanan Kelas I Palu.

Popular posts from this blog

PERAN KEPEMIMPINAN DALAM PENGENDALIAN GRATIFIKASI

PENDIDIKAN JEMBATAN PEMBANGUNAN

Pemanfaatan Imunostimulan untuk Pencegahan Koi Herpes Virus (KHV)