Kebun Plastik Bangsa Poros Maritim

Indonesia sebagai poros maritim merupakan cita-cita agung. Keagungannya bersemayan disudut-sudut langit tertinggi. Siapapun yang memandangi langit pasti terkagum-kagum karena langit hanya dapat dipandang dari bawah. Berbeda dengan langit, laut dapat dipandang dari ketinggian. Perbedaan sudut pandang langit dan laut membuat “penikmatnya” memperlakukan laut sebagai sesuatu yang rendahan. Laut tidak lebih diperlakukan sebagai tempat pembuangan akhir. Bahkan ketika dalam pergaulan ada teman yang dianggap tidak berguna maka istilah “kelautko jadi tude” menjadi sangat familiar terdengar.
Ada persamaan antara berkebun tanaman di sebidang tanah dan berkebun plastik di laut biru.  Persamaannya, kedua aktifitas sama-sama akan berakhir di meja makan. Bedanya, memakan buah dan sayuran menyehatkan sedangkan makan ikan yang mengandung plastik sangat berbahaya terhadap kesehatan. Seringkali kita mendengar istilah beras dan telur plastik sedangkan ikan plastik mungkin pertamakalinya diistilahkan pada tulisan ini, mungkin sekarang kita hidup di era plastik.
Rata-rata waktu penggunaan plastik hanya 25 menit, agar plastik hancur dan terurai butuh waktu ratusan tahun. Plastik umumnya dijadikan sebagai bahan kemasan dan packaging. Jumlah penggunaan plastik di Indonesia pastinya sangat banyak. Bayangkan saja jika di tempat perbelanjaan semuanya menggunakan plastik maka berapa ton plastik yang digunakan setiap harinya. Penggunaan bahan plastik untuk kemasan bukan tanpa alasan, harga murah dan efisien dalam penggunaan membuat pilihan jatuh pada plastik.
Tidak dapat dipungkiri, peningkatan jumlah sampah plastik merupakan kensekuensi logis dari kemajuan daerah. Di tiap selesainya momen-momen ceremonial penting yang tertinggal adalah utang, kesan, investor, dan sampah plastik tentunya. Sepemahan kita, sampah plastik akan berakhir di tempat pembuangan sampah dan pendauran ulang. Namun kenyataannya, sebagian besar plastik akan bermuara pada lautan baik oleh orang-orang yang membuang langsung maupun karena limpasan air hujan yang membawa plastik ke lautan.
Sebagai non biodegradable pollutan, sampah plastik mengambang secara luas di lautan belahan dunia manapun. Dalam beberapa tahun terakhir, pencemaran laut akibat plastik telah menarik perhatian dunia karena potensi bahaya untuk ikan dan satwa liar lainnya. Pada kepiting dan kelompok krustasea pada umumnya, mikroplastik terperangkap ke dalam tubuh melalui insang. Pada ikan, umumnya mikroplastik masuk ke jaringan tubuh melalui makanan.
Sampah plastik merupakan ancaman terbesar bagi ekosistem laut. Plastik mengandung bahan kimia berbahaya seperti Endocrine Disruptor Compounds (EDCS). Edcs bersifat estrogenik dan mengganggu sistem endokrin, keberadaan edcs pada tubuh ikan dapat menyebabkan gangguan reproduksi dan pada akhirnya dapat menurunkan stok populasi ikan di perairan. Dampak edcs bukan hanya pada ikan, tapi juga yang mengkonsumsi ikan. Endocrine Disruptor Compounds (EDCS) tersimpan dalam jaringan lemak dan organ hewan laut kemudian terakumulasi (bioakumulasi)  dalam jaringan tubuh hewan pemangsa melalui sistem rantai makanan (food chain). Mahluk dengan tingkatan tertinggi tentunya akan lebih banyak menerima edcs, termasuk manusia. Jadi, sekarang benar-benar kita hidup di era plastik. Beras plastik, telur plastik, dan manusia plastik tentunya.

Sampah plastik jelas merupakan musuh bagi kelestarian lingkungan hidup dan harus difikirkan solusinya bersama-sama. Saatnya untuk mengurangi ketergantungan terhadap plastik. Dalam penerapannya yang paling mudah,  saat ke pasar maka bawalah tas belanja dari rumah atau jika masih ada plastik bekas, itu bisa digunakan hingga berkali-kali. Besar harapan penulis agar pemerintah daerah dapat mengoptimalkan program daur ulang sampah plastik dan mengkampanyekan aksi pembatasan penggunaan plastik. Budayakan berkebun buah dan sayuran untuk kedaulatan pangan, hindari berkebun plastik dilautan untuk lingkungan yang sehat. Mewujudkan Indonesia sebagai poros maritime dunia harus diawali dari cara kita memandang laut sebagai “langit” yang harus dimuliakan dan diagungkan. Salam Bahari..

*)Tulisan telah diterbitkan diharian radar Sulteng Edisi 22/02.2016

Popular posts from this blog

PERAN KEPEMIMPINAN DALAM PENGENDALIAN GRATIFIKASI

PENDIDIKAN JEMBATAN PEMBANGUNAN

Pemanfaatan Imunostimulan untuk Pencegahan Koi Herpes Virus (KHV)