FORMALIN PADA IKAN
Oleh : Irmawan syafitrianto,
S.Pi.,M.P
(Inspektur
Mutu Hasil Perikanan, BPPMHKP-Kementerian Kelautan dan Perikanan)
Ikan merupakan bahan pangan yang mudah
mengalami pembusukan (perishable),
oleh sebab itu untuk merperlambat proses kemunduran mutu, maka ikan harus
ditangani secara higienis. Kemunduran mutu dan kesegaran
ikan disebabkan oleh banyak faktor, salah satunya suhu pusat ikan. Penggunaan
suhu rendah (0oC) setelah ikan mati dapat memperpanjang masa kejang
(rigormortis), menurunkan kegiatan enzimatis, bakterial, kimiawi dan perubahan
fisik sehingga dapat memperpanjang daya awet ikan. Cara kematian ikan pada saat
penangkapan juga mempunyai pengaruh besar terhadap mutu dan daya awet ikan.
Perubahan yang dialami ikan berlangsung dalam tiga fase,
yaitu fase prerigor mortis, rigormortis, dan post-rigormortis. Perubahan fase
ini dapat digunakan sebagai indikator perubahan kualitas ikan. Sebelum fase
post-rigor mortis, perubahan pada ikan disebabkan oleh aktivitas enzimatis.
Sedangkan ketika ikan memasuki fase rigormortis maka perubahan yang disebabkan
oleh oksidasi dan mikrobiologi.
Pada fase pre rigormortis dan rigormatis, proses enzimatik
akan mengubah Trimetil Alamin Oksida (TMAO) menjadi formaldehid
dan dimetil alamin. Formaldehid yang bereaksi dengan protein akan menyebabkan
jaringan otot pada ikan menjadi keras. Kandungan formaldehid alami pada ikan
berkisar antara 6-20 mg/kg sedangkan pada kerang berkisar antara 1
-100 mg/kg. Pembentukan formaldehid alami pada ikan berlangsung selama
proses pembusukan, makin busuk, makin banyak kandungan formaldehid. Penelitian
tentang formaldehid alami pada ikan dapat dilihat pada penelitian yang telah
dilakukan oleh Murtini (2013) dan Rachmawaty (2007).
Menurut IPCS (International
Programme on Chemical Safety), lembaga khusus dari tiga organisasi di PBB,
yaitu ILO, UNEP, serta WHO, yang mengkhususkan pada keselamatan penggunaan
bahan kimiawi, bahwa formalin yang boleh masuk ke tubuh dalam bentuk makanan
untuk orang dewasa adalah 1,5 mg hingga 14 mg per hari. Bila formalin masuk ke
tubuh melebihi ambang batas tersebut maka dapat mengakibatkan gangguan pada
organ dan sistem tubuh manusia. Gambaran
umum ikan yang mengandung formalin yaitu : tidak dihinggapi lalat, pada suhu
kamar ikan dapat bertahan hingga 1 bulan,
tidak beraroma khas ikan, tekstur daging lebih keras, dan warna ikan
lebih cerah/putih.