MODEL-MODEL PEMIMPIN BERINTEGRITAS DAN BERORIENTASI PELAYANAN

Kepemimpinan secara luas meliputi proses mempengaruhi dalam menentukan tujuan organisasi, memotivasi perilaku pengikut untuk mencapai tujuan, mempengaruhi interprestasi mengenai peristiwa-peristiwa para pengikutnya, pengorganisasian dan aktivitas-aktivitas untuk mencapai sasaran, memelihara hubungan kerja sama dan kerja kelompok, perolehan dukungan dan kerja sama dari orang-orang di luar kelompok atau organisasi (Rivai dan Mulyadi dalam Salutondok dan Soegoto, 2015).

            Kualitas pelayanan publik pada lembaga pemerintah merupakan hal mendasar yang harus ditingkatkan. Pelayanan publik seringkali dihadapkan dengan berbagai hambatan, antara lain : hambatan struktural (aturan yang terlalu kaku), hambatan kultural (suap, gratifikasi, malas) serta hambatan sungkan (keluarga, pertemanan, primordialisme). Layanan publik harus memiliki standar untuk dijadikan sebagai pedoman penyelenggaraan layanan pemerintahan yang mudah, terjangkau, cepat dan terukur.

            Seorang pemimpin organisasi pemerintahan harus mampu menjadi role model bagi orang-orang yang dipimpinnya. Kepemimpinan ideal telah dicontohkan oleh aktifis pergerakan kemerdekaan Indonesia, Menteri Pendidikan Indonesia Pertama, juga pendiri Perguruan Taman Siswa (Ki Hajar Dewantara / KHD). KHD mampu mengaktualisasikan apa yang ada dalam pikirannya menjadi aksi nyata dalam menghadapi pemerintah kolonial belanda.

            Trilogi kepemimpinan KHD merupakan kepemimpinan yang dinamis antara Ing Ngarsa, Ing Madya, dan Tut Wuri. Nilai-nilai kepemimpinan yang dicontohkan oleh Ki Hajar Dewantara mencakup : pengabdian, tuntunan, panutan, pendampingan, serta keikhlasan. Pengabdian dan perjuangan KHD yang terus menerus dalam ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa telah memberikan kesan, kepercayaan serta penghargaan dari masyarakat. KHD menciptakan istilah yang kemudian sangat terkenal, yaitu: 

1.    Ing ngarsa sung tulada (di muka memberi contoh). Dengan tekad yang kuat, seorang pemimpin harus mampu melaksanakan kerja yang paling banyak dan berat serta menegakkan disiplin dengan menjadikannya sebagai teladan yang patut untuk dicontoh

2.    Ing madya mangun karsa (di tengah membangun cita-cita). Seorang pemimpin ketika berada di tengah-tengah yang dipimpinnya harus bisa mengayomi, menjalin kebersamaan untuk mencapai tujuan. Seorang pemimpin harus bisa merangkul yang dipimpinnya, mau menerima kritik dan saran, serta mampu menciptakan prakarsa untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien, pemimpin harus bisa menciptakan atmosfer organisasi menjadi kondusif, sehingga akan muncul semangat bersama untuk saling memotivasi dalam mencapai tujuan yang diinginkan

3.    Tut wuri handayani (mengikuti dan mendukungnya). Seorang pemimpin harus bisa menempatkan diri di belakang untuk mendorong individu-individu dalam organisasi yang dipimpinnya berada di depan untuk memperoleh kemajuan dan prestasi.

Seorang pemimpin harus menjalankan fungsinya dengan baik, seorang pemimpin harus bisa menempatkan diri dan peka terhadap lingkungan sekitar. Seorang pemimpin harus bisa menempatkan diri dengan berada di depan untuk memberikan teladan, di tengah untuk memberikan semangat, dan di belakang untuk memberikan dorongan atau kekuatan demi tujuan yang disepakati bersama


Popular posts from this blog

PERAN KEPEMIMPINAN DALAM PENGENDALIAN GRATIFIKASI

PENDIDIKAN JEMBATAN PEMBANGUNAN

Pemanfaatan Imunostimulan untuk Pencegahan Koi Herpes Virus (KHV)