Posts

KERUSAKAN TERUMBU KARANG

Terumbu karang merupakan rumah bagi ribuan hewan dan tumbuhan yang memiliki nilai ekonomis tinggi, berbagai jenis hewan laut mencari makan dan berlindung di ekosistem tersebut. Pada kondisi yang sangat maksimal, terumbu karang menyediakan ikan-ikan dan molusca hingga mencapai jumlah sekitar 10 – 30 ton/km2 per tahunnya (Hanggono, A., Bambang K., Suhud, Rasjid A., dan Murad S, 2001). Ekosistem ini merupakan sumber plasma nuftah bagi makhluk hidup baik di masa sekarang maupun di masa yang akan datang. Selain itu, terumbu karang merupakan laboratorium alam yang sangat unik untuk berbagai penelitian yang dapat mengungkapkan penemuan yang sangat berguna bagi kehidupan manusia. Keindahannya dapat menjadi sumber devisa pariwisata bagi pemerintah setempat, sehingga dapat menambah penghasilan manusia, terutama bagi masyarakat pesisir. Terumbu karang (coral reefs) merupakan ekosistem laut tropis yang terdapat di perairan dangkal yang jernih, hangat (lebih dari 22oC), memiliki kadar CaCO3 (Kal...

VIBRIOSIS IN SHRIMP CULTURE (TREATMENT)

Vibriosis is one of the major disease problems in shellfish and finfish aquaculture. Vibriosis is a bacterial disease responsible for mortality of cultured shrimp worldwide (Lightner & Lewis, 1975; Adams, 1991; Lightner et al., 1992; Lavilla-Pitogo et al., 1996; Lavilla-Pitogo et al., 1998; Chen et al., 2000). Vibriosis is controlled by rigorous water management and sanitation to prevent the entry of vibrios in the culture water (Baticados, et al., 1990) and to reduce stress on the shrimps (Lightner, 1993). Good site selection, pond design and pond preparation are also important (Nash et al., 1992). An increase in daily water exchanges and a reduction in pond biomass by partial harvesting are recommended to reduce mortalities caused by vibriosis. Draining, drying and administering lime/dolomite to ponds following harvest is also recommended (Anderson et al., 1988). Luminescent vibriosis may be controlled in the hatchery by washing eggs with iodine (SparkDin) and formaldehyde and a...

IMPACTS ON SOIL AND WATER RESOURCES AND THE SPREAD OF DISEASE

In some areas pumping of groundwater and/or construction or modification of canal systems has resulted in saltwater intrusion into what were previously freshwater areas. Disturbance and release of acid from acid sulphate soils (common in mangrove areas) as a result of pond digging has also had negative impacts on resource productivity, including aquaculture yields. Excessive acidity is likely to reduce disease resistance. Overall, the rapid and over-concentrated development of aquaculture, and particularly coastal aquaculture, has resulted in declines in soil and water quality, increased disease incidence, and more rapid disease spread. This has directly and negatively impacted fish farmers themselves, in both inland and coastal environments. The knock-on effects of disease outbreaks are substantial for local communities and national economies. Some recent examples of the economic impacts are listed below: • The total negative economic impact of two shrimp viruses, white spot syndrome...

BIODIVERSTAS LAHAN GAMBUT

Dari segi keanekaragaman hayati (biodiversitas) hutan-hutan rawa gambut sangat penting. Lahan gambut dapat dimanfaatkan untuk ditanami tanaman yang bersifat ekonomis seperti cabai, rotan, meranti, kayu putih (Melaleuca leucadendra), jagung, kacang tanah, kedelai, kapur naga (Callophilium soulatri), kempas (Koompassia malcencis), ketiau (Ganua motleyana), mentibu (Dactyloclades stenostachys), nyatoh (Palaquium scholaris), rambutan hutan (Nephelium sp.) anggrek, punak (Tertamerista glabra), perepat (Combretocarpus rotundatus), pulai rawa (Alstonia pneumatophora), terentang (Campnosperma spp.), bungur (Logerstroengia speciosa), belangeran (Shorea balangeran), meranti rawa (Shorea pauciflora), rengas (Melanorrhaoea walichii), palem merah (Cyrtoctachys lakka), ara hantu (Ploikilospermum suavalens), palas (Licuala paludosa), kantong semar (Nephentes mirabilis), liran (Pholidocarpus sumatranus), Flagellaria indica, akar elang (Uncaria schlerophylla), putat (Barringtonia racemosa), rasau (Pan...

TRAMMEL NET

TRAMMEL NET merupakan salah satu jenis alat penangkap ikan yang banyak digunakan oleh nelayan. Hasil tangkapannya sebagian besar berupa udang, walaupun hasilnya masih jauh dibawah pukat harimau (trawl). Di kalangan nelayan, Trammel net sering disebut juga "Jaring kantong", " Jaring Gondrong" atau "Jaring Udang". Sejak pukat harimau dilarang penggunaannya, Trammel net ini semakin banyak digunakan oleh nelayan. Konstruksi dan desain Trammel net sangat sederhana sehingga mudah dibuat sendiri oleh nelayan. Alat tersebut merupakan jaring berbentuk empat persegi panjang dan terdiri dari tiga lapis jaring, yaitu : dua lembar "jaring luar" dan satu lembar "jaring dalam". Agar alat tersebut terbuka tegak lurus di perairan pada saat dioperasikan, maka Trammel net dilengkapi pula dengan pelampung, pemberat dan tali ris. Dengan demikian alat ini digolongkan juga sebagai jaring insang (gill net). Bedanya kalau Trammel net terdiri dari 3 lapi...

KERUGIAN SEKTOR PERIKANAN AKIBAT LETUSAN MERAPI

Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad mengungkapkan, berdasarkan perhitungan KKP, kerugian sementara yang diderita para pembudidaya mencapai sekitar Rp 25,9 miliar. Saat ini produksi ikan terutama ikan lele di Yogyakarta khususnya Boyolali mencapai lebih dari 15 ton per hari. Akibat bencana ini, produksi perikanan mengalami penurunan lebih dari 50 persen,” ungkap Fadel di Jakarta, Selasa (9/11). Untuk menormalisasi tingkat produksi perikanan, dalam waktu dekat, tepatnya setelah erupsi Merapi berhenti, KKP akan melakukan rehabilitasi tambak-tambak dan kolam-kolam budidaya. Selain rehabilitasi lahan kolam seluas 114 ha, untuk memulihkan perekonomian di sektor budidaya ikan, para pembudidaya membutuhkan sedikitnya 11 juta ekor benih ikan dan lebih dari 1.050 ton pakan ikan. Sebelumnya, KKP juga telah menyiapkan anggaran sebesar Rp15 miliar untuk penanganan tsunami di Kepulauan Mentawai. “Lebih dari 100 hektar lahan budidaya rusak akibat tertutup debu vulkanik Merapi sehingga menga...

CLASSIFICATION Anguilla bicolor

Image
Kingdom: Animalia Phylum : Chordata Class : Actinopterygii Order : Anguilliformes Family : Anguillidae Genus : Anguilla Species: A. bicolor Subspecies: A. b. bicolor sumberdaya ikan sidat di perairan Indonesia cukup besar, tetapi berbagai ancaman seperti adanya tangkapan berlebih terhadap sidat anakan yang baru mau tumbuh maupun sidat dewasa yang siap bereproduksi, kerusakan habitat hunian ikan sidat akibat ulah manusia, pencemaran lingkungan, pembangunan infrastruktur, bencana alam, maupun dampak perubahan iklim global, telah turut mempengaruhi kelangsungan hidup biota unik ini di perairan Indonesia. Menurut Dr. Sam Wouthyzen, migrasi sidat Sulawesi ke perairan Teluk Tomini memiliki keunikan. Karena jalur migrasinya relatif pendek dibandingkan dengan migrasi sidat sub tropis seperti Sidat Jepang (Anguilla japonica) yang melakukan migrasi pemijahnya sejauh 4000 mil di tengah laut Pasifik. Atau sidat Amerika dan Eropah (Anguilla anguilla dan Anguilla rostrata) yang bermigrasi 8000 m...